Welcome Piala Dunia 2010

Tak terasa perhelatan akbar 4 tahunan yang akan menyedot perhatian jutaan penggemar bola dunia akan segera berlangsung. Bagaikan pibu dalam cerita dunia persilatan, maka gelaran akbar di Afrika Selatan ini akan berlangsung dari tanggal 11 Juni 2010 sampai tanggal 12 juli 2010. Akan ada 64 partai dan akan diikuti para pendekar dari 32 kesebelasan yang mewakili negara masing-masing. Bagi kita para bola mania di Indonesia, tampaknya hanya kegembiraan menyaksikan pibu tersebut, masih jauhlah kelas para pendekar kita untuk berlaga di even tersebut. Apa boleh buat, dengan hanya menontonpun kegembiraan tak akan berkurang. Tulisan ini merupakan catatan pinggiran dari seorang penggemar bola yag juga berada di negara yang ada di pinggir dalam konteks prestasi di dunia kangouw persebakbolaan. Walaupun kalau dihitung jumlah penggemar bolanya, saya yakin Indonesia akan masuk dalam 5 besar. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pengantar menikmati rangkaian pertandingan bermutu di Piala Dunia ke 19 di Afrika Selatan ini.

Demam bola ataupun demam Piala Dunia memang telah melanda ke seluruh dunia. Virusnya telah berjangkit ke seluruh dunia melebihi melebihi virus apapun yang pernah dikenal. Menjangkiti tua muda, anak-anak, pria, wanita. Mereka rela terjangkiti virus tersebut walaupun kadang harus bergadang dan mengorbankan hal-hal lain dalam kehidupannya. Permainan sebelas orang melawan sebelas orang ini kadang tak hanya mewakili semangat olahraga namun juga ada kebersamaan, kerja keras dalam proses mobilisasi vertikal seseorang, namun kadang juga mewakili perjuangan suku/bangsa bahkan kadang juga ideologi. Demam bola pun melanda seluruh planet bumi. Ya, sepak bola telah menjadi semacam agama baru menurut pendapat beberapa orang, bukan dalam artian teologi namun kadang muncul ritual-ritual khas dunia sepakbola.

Bagi sebagian orang sepakbola telah memberikan jalan bagi mobilisasi vertikal untuk memperbaiki kehidupan sosial ekonomi bagi diri, keluarga maupun bangsanya. Banyak pemain-pemain top dunia dari kawasan Afrika, Amerika Latin kebanyakan berasal dari lingkungan masyarakat miskin sehingga mereka melihat peluang, bermain bola adalah jalan termdah bagi mereka. Sementara itu persaingan sengit antara klub Bercelona dengan Real Madrid di Spanyol ditenggarai juga dibumbui oleh adanya keinginan pemisahan dari wilayah Katalan terhadap Spanyol. Sedangkan bagi para penggila bola, maka sepakbola meupakan obat untuk melepas kepenatan dari himpitan beratnya beban kehidupan ekonomi sehari-hari.
Dalam percaturan politik ekonomi dunia, sepakbola juga ikut andil besar dalam mempromosikan dan mengubah nasib suatu negara. Siapa yang tidak kenal Brazil dan Argentina yang sangat disegani dalam percaturan bola dunia. Padahal kedua negara tersebut sejak dulu tidak termasuk kelompok Negara G-8, bukan negara terkemuka dalam bidang politik dan ekonomi. Namun dengan prestasi tim bolanya siapa yang tak kenal Brasil sejak jaman Pele, Ronaldo, Ronaldinho hingga jaman Kaka. Siapa pula yang tak mengenal Argentina sejak ada Kempes, Maradona hingga Messi saat ini. Boleh dibilang kita bahkan tak tahu nama kepala negara-negara tersebut, namun jangan ditanya nama negara asal Lionel Messi atau Kaka, kita akan menjawab dengan mudah. Ya sepakbola bisa menggantikan politik dalam meperkenalkan, mempromosikan serta diplomasi negara di level dunia.

Dalam Piala Dunia ke 19 nanti siapa tahu akan muncul banyak kejutan dan bisa melambungkan nama negara-negara yg sebetulnya mungkin kurang begitu bergaung di dunia internasional. Negara seperti Pantai Gading, Ghana, Honduras mungkin saja membuat kejutan yang membanggakan bagi negaranya. Setidaknya warga negara mereka bisa menepuk dada dan berkata, kami ada di perhelatan Piala Dunia. Jika ingin mencapai level ini Indonesia mesti bangun terlebih dahulu dan kerja keras untuk bisa hadir di pibu tersebut. Entahlah kapan kesempatan itu akan datang tidak ada yang bisa menjawab atau bahkan merani mentargetkan. Mungkin seperti syair lagu Ebiet G Ade bisa mewakilinya, cobalah kita bertanya pada rumput yang bergoyang,. Ya rumput yang bergoyang karena sudah pasti PSSI tak punya jawabnya.

Penyelenggaraan Piala Dunia : Pengembangan Olahraga dan Bisnis

Piala Dunia ke 19 kali yang akan digelar di Afrika Selatan ini merupakan yang kedua kali diselengarakan di luar benua Eropa dan Amerika setalah pertama pada Tahun 2002. FIFA tampaknya bisa mengubah tradisi bahwa penyelengaranan Piala Dunia tidak harus dilakukan di suatu Negara yang punya tradisi olahraga terutama sepakbola cukup kuat. Tentu saja banyak teori konspirasi yang dituduhkan, namun tak bisa dipungkiri bahwa penunjukan tuan rumah Piala Dunia tahun 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Banyak dugaan bahwa pemilihan waktu itu didasarkan untuk memperbesar kue bisnis sepakbola baik dari penjualan pernak pernik seperti kaos, dll maupun memperbesar ruang bagi iklan melalui televisi. Begitu juga di Afrika Selatan ini juga banyak dugaan seperti itu. Namun tak ada yang salah dengan semua itu, sepanjang permainan di lapangan dilakukan dengan sportivitas maka semua kawasan dunia berhak menikmati langsung pertandingan bermutu secara langsung dan kalaupun bisnis dari bola makin berkibar maka itu suatu berkah yang patut disyukuri. Dan diyakini akan menambah daya tarik bagi orang yang akan terjun dalam dunia sepakbola.


Penyebaran sepakbola baik menyebarkan indahnya permainan di lapangan atau aspek bisnisnya sebetulnya telah dilakukan FIFA sebelumnya ketika menunjuk Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia Tahun 1994. Ini pertama kali Piala Dunia digelar di luar Eropa ataupun Amerika Selatan sebagai kutub utama permainan sepakbola. Walaupun di gelar di AS dimana sepakbola bukan olahraga utama, namun penyeleggaraannya sukses besar. Sampai saat ini tercatat Piala Dunia di AS menyedot penonton langsung datang ke stadion mencapai 3.587.538 pnonton, yang merupakan jumlah rekor terbanyak penonton.
Walaupun Piala Dunia telah diselenggarakan 18 kali sejak tahun 1930-2006 namun hanya beberapa negara saja yang mampu menuarai kejuaran olahraga yang paling menyita perhatian penduduk dunia tersebut. Tercatat Uruguay sebagai negara yang pertama kali menjuarai Piala Dunia telah 2x juara, Italia (4x), Brasil (5x), Jerman (3x), Inggris (1x), Argentina (2x), Perancis (1x). Event 4 tahunan tersebut juga sempat terhenti ketika meletus dan berkecamuknya Perang Dunia 2. Setelah diselenggarakan pada tahun 1938 maka di tahun 1942 dan 1946 Piala Dunia ditiadakan.

Gol, Gol dan Gol :

Tidak ada yang lebih menarik rasanya menonton pertandingan sepakbola melebihi nikmatnya, indahnya proses terciptanya sebuah gol. Ya, gol, sesuatu yang menjadi tujuan utama setiap tim untuk memperoleh kemenangan. Tentu saja dalam sejarah Piala Dunia telah lahir banyak kampiun-kampiun pencetak gol dalam tiap turnamen sejak tahun 1930 sehingga menjadi top scorer. Namun hanya ada 3 pemain saja yang bethasil mencetak 10 gol atau lebih dalam satu Piala Dunia. Entah kekuatan setiap kesebelasan yang makin berkembang ataukah gaya permainan yang makin cenderung defensif sehingga makin sulit untuk mencetak gol. Tercatat Just Fontaine (Perancis) mencetak 13 gol di Piala Dunia 1958, kemudian Sandor Kocsis (Hongaria, 11 goldi tahun 1954) dan Gerd Muller (Jerman Barat, 10 gol di tahun 1970). Sejak itu jumlah gol terbanyak di Piala Dunia yang bisa dicetak seorang pemain terasa menurun. Di Piala Dunia 2006 pencetak gol terbanyak adalah Miroslave Klose dari Jerman dengan hanya mencetak 5 gol saja.


Tentu saja selain goal getter, ada banyak hal lain yang menarik mencermati lahirnya sebuah gol. Bahkan kadang sangat kontroversial. Tentu bagi kebanyakan kita saat ini bisa mengenang bagaimana hebatnya dan juga kontroversialnya pemain yang dianggap sebagai salah satu terbaik yang pernah lahir dalam dunia sepakbola, Maradona. Pertandingan perempat final di Piala Dunia Meksiko 1986 di Eztadion Azteca tersebut memang penuh aroma persaingan, dendam, amarah di kedua kubu. Apalagi beberapa tahun sebelumnya kedua negara terlibat dalam perang bersenjata ketika memperebutkan kepulauan Malvinas (menurut Argentina) atau Falkland (menurut versi Inggris). Pertandingan ini sendiri akhirnya dimenangkan oleh Argentina dengan skor 2-1. Dan kedua gol Argentina dicetak oleh Maradona. Sedangkan gol Inggris dicetak oleh Gary Lineker, yang akhirnya juga menjadi top skorer di Piala Dunia 1986 dengan koleksi 6 gol.

Gol pertama Argentina terlihat jelas di layar TV dicetak dengan menggunakan tangan alias handball ketika dia menerima umpan lambung ke arahnya di depan gawang Inggris. Maradona sendiri menyebutnya sebagai gol “The Hand of God” atau Gol Tangan Tuhan. Sedangkan orang Inggris lebih suka menyebutnya sebagai “The Hand of Cheat” alias tangan curang. Namun gol kedua Maradona ke gawang Inggris jelas menunjukan kepiawaian dan kejeniusan olah bola dari mahabintang yang kontroversial ini. Dimulai dari proses Maradona menjemput bola di daerah sendiri mengalahkan Peter Beardsley dan Peter Reid, kemudian ia berlari ke gawang Inggris. Penonton menahan napas panjang ketika menyaksikan Maradona masih bisa melewati Terry Butcher dan kemudian Terry Fenwick sebelum memutari Peter Shilton lalu menceploskan bola ke gawang Inggris. Saking indahnya goal kedua Maradona ini disebut sebagai gol terbaik dalam Piala Dunia yang pernah ada. Bahkan di tahun 2002 gol tersebut disebut sebagai gol abad ini “The Goal of Century” oleh FIFA melalui website-nya. Ya, Maradona pemain terhebat yang pernah penulis saksikan melalui layar kaca. Sayang penulis belum mengalami jamannya Pele, pemain legendaries yang dsering disebut sebagai pemain terbaik sepanjang masa, atau melihat penampilan terbaiknya ketika bermain di Piala Dunia 1970.

Atraktif Football dan Prinsip Tsun Zu

Sebagai penonton apalagi mereka yang sudah sampai pada tahap penikmat permainan sepakbola tentu sangat mengharapkan adanya permainan yang indah. Permainan indah bisa diperagakan oleh skill individu yang hebat dalam menguasai dan mengolah si kulit bundar. Para seniman bola dari Amerika Latin seperti Brazil, Argentina sering menmapilkan pertunjukan skill individu yang luar biasa dan menarik untuk ditonton. Kampiun-kampiun bola sejak jaman Pele, Zico, Maradona, Ronaldo, Ronaldinho hingga era Lionel Messi membuktikan bahwa kepiawaian dalam mengolah si kulit bundar akan sangat menarik dan mampu menghasilkan gelar juara. Brazil yg dipenuhi para seniman bola selalu mampu menampilkan permainan yang indah alias jogo bonito. Tim Samba ini pula satu-satunya negara yang mampu menghasilkan 5x tropi Piala Dunia alias penta campeone. Kedua tim utama negara Amerika Latin tersebut termasuk yang menganut adagium pertahanan yang terbaik adalah menyerang lawan terlebih dahulu.

Prinsip menyerang agar mampu menghasilkan gol lebih banyak dan mempertontokan sepakbola yang menarik juga banyak dianut oleh banyak tim tim Eropa seperti Belanda, Portugal, Spanyol, Jerman dan Inggris. Memperbincangkan konsep sepakbola menyerang ala Eropa, tampaknya harus berbicara mengenai sistem total football yang diciptakan oleh Rinus Michels . Konon sistem permainan yang pada intinya permainan menyerang yang melibatkan semua pemain selain kiper dalam menyerang lawan, sesekali berganti ganti posisi namun tetap tidak melupakan posisi utamanya. Permainan ini diperagakan dengan baiknya oleh tim Belanda di dekade 1970-an terutama saat tampil di final Piala Dunia 1974 melawan Jerman Barat dan Piala Dunia 1978 melawan Argentina. Skill tehnik yang tinggi para pemain Belanda era 1970-an seperti Johan Cruyff, Johan Neeskens, Johny Rep, Rob Resenbrink, Rud Kroll, Arie Haan, dll membuat Belanda sangat disegani pada era itu. Namun sayangnya prestasi mereka tidak pernah sampai di puncak di Piala Dunia. Pada level klub mereka yang merupakan tulang punggung klub utama Belanda saat itu, Ajax Amasterdam, memang hebat. Ajax menjuarai Piala Champion Eropa tahun 1971, 1972 dan 1973.

Meski gagal menjuarai Piala Dunia, Belanda telah menggoreskan kenangan manis sebagai tim yang membawa aroma baru dengan gaya menyerang yang khas bergelombang. Entah apakah Rinus Michels, si jenius yang meramu sistem tersebut terinspirasi oleh bait-bait prinsip strategi perang dari Sun Tzu, seorang filsuf China yang mengarang karya berjudul Art of War kira-kira 2.300 tahun yang lalu. Sun Tzu menulis tentang strateginya a.l : Dalam bergerak hendaknya secepat angin, dalam gerakan lambat hendaknya seanggun rimba belantara, dalam bertahan bertahanlah sekokoh gunung, dan bila menyerang harus melanda seperti guntur”. Ya prinsip permainan bola yang menyerang dengan cepat bagaikan guntur dan bisa bertahan sekokoh gunung karena semua bisa naik menyerang dan turun ikut bertahan sangat mirip dengan prinsip-prinsip Sun Tzu ini.

Aroma permainan menyerang yang enak dilihat ini sayangnya agak memudar belakangan. Beberapa pelatih negara Negara utama dunia sepakbola seperti Brazil, Argentina, Italia dan Jerman lebih memilih sepakbola bertahan dengan jargon tidak kalah. Ini mengundang kritikan pedas para pengamat karena akan menurunkan mutu dan daya tarik permainan sepakbola. Untuk tahun 2010, banyak pihak berharap bahwa pertandingan akan lebih seru dengan kuatnya negara-negara dengan pelatih yang punya kiblat strategi menyerang sehingga bisa diharapkan akan lebih menarik. Tim-tim seperti Brazil, Argentina, Portugal, Belanda, Spanyol dan Inggris saat ini termasuk tim yang diharapkan dapat menampilkan permainan menyerang terbaiknya dilihat dari materi pemain yang mereka miliki.
Orang-orang hebat

Rinus Michels akan dikenang selalu sebagai pelatih hebat yang menggali sistim totall football walaupun tidak pernah berhasil memenangkan Piala Dunia. Tentu dalam sejarah Piala Dunia banyak sekali mereka yang dicatat dengan tinta emas atas prestasinya. Sebut saja Pele, pemain besar dan hebat dari Brazil. Dialah satu-satunya pemain di dunia yang pernah merasakan gelar juara dunia 3 kali. Bersama tim Brazil ia merasakan gelar juara dunia di tahun 1958, 1962 dan 1970. Ia juga menjadi pemain termuda di dunia yang berhasil mencetak gol di Piala Dunia ketika pada usia 17 tahun 239 hari mencetak gol ke gawang Wales di perempat final Piala Dunia 1958. Namun rekor Pele sebagai pemain termuda yang pernah tampil di Piala Dunia dipecahkan oleh Norman Whiteside dari Irlandia Utara. Ketika tampil di Piala Dunia 1982 saat melawan Yugoslavia, ia baru berusia 17 tahun 42 hari.
Tentu bukan hanya yang muda saja yang bisa berprestasi, mereka yang tergolong sudah berumur-pun mampu berprestasi di Piala Dunia. Sebuf saja Dino Zoff kiper dan kapten kesebelasan Italia ketika menjuarai Piala Dunia 1982. Ia menjadi pemain tertua yang pernah memenangkan Piala Dunia. Selain itu tercatat juga Roger Milla pemain asal Kamerun yang sempat main di liga Indonesia di masa akhir karirnya. Milla tercatat sebagai pemain tertua yang pernah tampil di Piala Dunia dan juga pemain tertua yang pernah mencetak gol di Piala Dunia. Ketika tampil di Piala Dunia 1994 melawan Rusia, ia berusia 42 tahun 39 hari.

Ada 2 orang yang hebat dalam sejarah Piala Dunia hingga saat ini yang berhasil meraih Piala Dunia baik sebagai pemain dan sebagai pelatih kesebelasannya. Mario Zagalo dari Brazil berhasil meraih juara dunia sebagai pemain di Piala Dunia tahun 1958, 1962 dan berhasil meraih Piala Dunia ketika menjadi pelatih Brazil di tahun 1970. Orang kedua adalah Franz Backenbauer dari Jerman Barat, yang dijuluki sebagai ‘Der Kaiser’ atau Sang Kaisar. Ia meraih Piala Dunia tahun 1974 sebagai pemain dan kapten Jerman dan sebagai pelatih Jerman di Piala Dunia 1990.

Walaupun tak pernah masuk sebagai top scorer di Piala Dunia, Gabriel Batistuta dari Argentina, yang terkenal dengan Batigol-nya di liga Italia, merupakan satu-2nya pemain yang berhasil mencetak 2x hatrick (mencetak 3 gol dalam 1 pertandingan) di dua turnamen Piala Dunia. Ia melakukan hatrick di Piala Dunia 1994 dan 1998. Sementara kalau bicara pemain yang paling banyak dan paling lama tampil di ajang Piala Dunia adalah Lothar Matthaus dari Jerman. Ia bermain di 25 pertandingan di Piala Dunia 1982, 1986, 1990, 1994 dan 1998. Sedangkan kalau menyebut pemain yang paling sering tampil di pertandingan final Piala Dunia maka Cafu dari Brazil pemegang rekornya. Ia tampil di final pada Piala Dunia 1994, 1998 dan 2002. Di tahun 1994 dan 2002 Brazil tampil sebagai juara sedamngkan di tahun 1998 Brazil kalah 0-3 dari Perancis.

Karir : Dari Pemain ke Pelatih

Sepakbola berkembang dengan cepat ke seluruh Dunia antara lain karena dimesi ekonomi dari industri sepakbola. Piala Dunia merupakan panggung pembuktian bagi pemain maupun pelatih yang terlibat di dalamnya. Ia menjadi semacam etalase, ruang pamer bagi pelatih dan pemain untuk membuktikan kualitasnya yang pada akhirnya bisa bermakna pada nilai transfer, gaji, bonus, dll reward yang bisa di terima oleh pemain maupun pelatih. Kesuksesan yang diraih baik berupa penampilan yang prima maupun prestasi juara dan kategoi prestasi lainnya tentu merupakan idaman semua yang terlibat di Piala Dunia.

Bagi pemain nilai transfer yang naik merupakan cerminan akan penghargaan akan kualitasnya dalam bermain. Walaupun besaran nilai tranfer sebagian besar akan diterima oleh klub dia berasal. Bagi seorang pelatih maka nilai renumerasi kontrak tahunan sebagai pelatih menunjukan seberapa besar kemampuannya dihargai. Hanya saja untuk berkarir sebagai pemain ada beberapa keterbatasan yang tak bisa dihindari yaitu usia. Rata-rata dalam olahraga sepakbola ada golden age yaitu usia yang dianggap paling produktif, biasamnya mereka berada di umur 20-27 tahun. Rentang usia ini dianggap cukup matang, bugar dan bisa produktif. Sangat jarang pemain utama bisa terus bermian dengan bagusnya ketika usia sudah menginjak di atas 30 tahun. Karir sebagai pelatih biasanya menjadi pilihan yang masuk akal. Mereka sudah mengenal duniamya, aturannya, pemain di industrinya
Karir sebagai pelatih ini juga menjanjikan reward yang sangat menarik. Jika melihat angka-angka gaji pelatih mereka yang melatih tim 32 negara yang terlibat di Piala Dunia Afrika Selatan ini memang bisa membelakakan mata kita. Fabio Capello, pelatih tim Inggris menduduki peringkat pertama sebagai pelatih termahal dengan menerima gaji setahun sebesar US$ 9.900.000,- yang kemudian disusul di peringkat kedua dan ketiga adalah Marcelo Lippi pelatih tim Italia dengan gaji US$ 4.100.000,- dan Javier Aquirre pelatih tim Meksiko dengan gaji US$ 4.000.000,-. Sedangkan pelatih Argentina, Diego Maradona mendapatkan gaji sebesar US$ 1.200.000,- dan berada di urutan ke 14 ranking gaji pelatih kesebelasan yang berlaga di Afrika Selatan.

Melihat angka-angka ini tentu membuat kita berdecak kagum, betapa hebatnya sepakbola mampu memberikan reward bagi pelatih. Sekedar pembanding, Dr Sri Mulyani Indrawati, Menkeu Indonesia yang akan segera menjadi salah satu Managing Director di World Bank akan menerima renumerasi dalam bentuk gaji dan fasilitas-fasilitas lainnya sebesar sekitar US$ 475.000,- per tahun. Ini sedikit datas gaji yang diterima pelatih kesebelasan Serbia yang sebesar US$ 447.000,- dan berada di urutan ke 24 daftar gaji tertinggi pelatih 32 negara yang berlaga di Afrika Selatan. Pelatih dengan gaji tahunan terkecil adalah Kim Jong Hun, pelatih Korea Utara yang mendapatkan gaji US$ 250.000,- per tahun.

Welcome Piala Dunia 2010:

Sepakbola memang menarik untuk dikaji lebih dalam. Banyak aspek bisa diulas dari soal permainan bola itu sendiri, aspek perjuangan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, analisis perkembangan indsutri dan bisnisnya, dll. Namun bagi penulis yang paling utama memang menikmati permainan bolanya itu sendiri. Tentu kalau tahu banyak hal lainnya bisa menambah kenikmatan menonton permainan sepakbolanya itu sendiri.
Bravo sepakbola, mari kita nikmati Piala Dunia 2010.

Referensi :

1. www.askarlo.net
2. World Cup 1930- 2010, Tiga Kelana, 2010.
3. Buku Panduan Piala Dunia 2006 Jerman, Persembahan Bank Bukopin, 2006
4. Sun Tzu : Perang dan Manajemen, We Chow-hou, Lee Khai-Sheang & Bambang Waluyo Hidayat, 2001



Like Folder